Kamis, 16 Februari 2017

Terserah lah kita menyadarinya atau tidak, terserah lah kita mengenalinya sebagai bersifat spritual atau tidak? Namun, kita mungkin pernah mengalami keheningan atau keilahian—beberapa detik, beberapa menit yang rasanya seperti tidak kenal waktu; waktu sesaat ketika sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja menjadi tampak indah, wow-berkilau; perasaan damai yang sangat dalam, merasakan bahagia tanpa alasan. Ketika pengalaman ini dirasakan... percayailah. Pengalaman seperti itu mencerminkan hakikat diri kita.


Meskipun meditasi menimbulkan perasaan rileks dan menyenangkan, nilainya yang terbesar berasal dari pengaruhnya pada hidup kita ketika tidak sedang melakukan meditasi. Ratusan penelitian telah dilakukan selama 40 tahun terakhir ini, menunjukkan dampak besar meditasi pada tubuh, pikiran, dan perasaan. Beberapa di antara sejumlah penelitian pertama, yang dilakukan pada awal 1970an oleh ahli fisiologi Dr. Robert Keith Wallace, mengkaji efek meditasi, terutama tehnik Meditasi Transendental. TM atau Meditasi Transendental memberikan banyak manfaat secara fisik maupun psikologis, termasuk menjadi normalnya tekanan darah, berkurangnya kecemasan, dan membaiknya fungsi sistem kekebalan tubuh. Banyak penelitian lanjutan yang dilakukan untuk meneliti semua jenis meditasi, dan sekarang meditasi telah menjadi bentuk pengelolaan stres yang telah diakui oleh umat di seluruh dunia.


Meditasi bukan hanya sekedar membantu mengatasi stres. Beberapa penelitian sangat menarik yang dilakukan dewasa ini menunjukkan bahwa meditasi menempatkan kita pada jalur cepat menuju kebahagiaan dengan meningkatkan kegiatan di bagian otak yang berkaitan dengan perasaan bahagia dan cinta kasih.


Psikolog Dr. Paul Ekman di University of California San Francisco Medical Center menguji biksu Buddha—pakar pelaku meditasi—dan mendapati bahwa praktik meditasi yang mereka lakukan tampaknya menenangkan amigdala otak. Selain itu ketika sedang melakukan meditasi dan ketika sedang tidak  bermeditasi, para biksu ini lebih tenang. Mereka cenderung sangat jarang panik atau marah, apa pun yang terjadi pada diri mereka.
Dr. Richard Davidson, yang penelitiannya tentang neuroplastisitas pernah mengkaji hubungan antara meditasi, neuroplastisitas, dan berbagai kegiatan otak. Dr. Davidson meminta para praktisi meditasi pemula, selain juga meminta para BIKSU, yang telah menghabiskan waktu lebih dari 10.000 jam untuk bermeditasi selama 30 tahun terakhir, untuk melakukan lima jenis meditasi sambil kegiatan otak mereka diukur. Dr. Davidson mendapati bahwa selama meditasi, biksu yang lebih berpengalaman memiliki kegiatan otak dengan tingkat yang lebih tinggi di korteks prefrontal kiri, yang menunjukkan perasaan bahagia, empati, dan berbagai perasaan positif lainnya, dibandingkan dengan  di korteks prefrontal kanan, daerah otak yang berkaitan dengan perasaan cemas dan depresi. Gaya positif fungsi otak ini juga ditemukan ketika mereka sedang tidak melakukan meditasi. Dalam bukunya, Train Your Mind, Cange Your Brain (Latih Pikiran Anda, Ubah Otak Anda), wartawan ilmiah Sharon Begley menjelaskan bahwa dampak bagusnya stamina yang dihasilkan oleh meditasi disebabkan oleh neuroplastisitas otak: “Jaringan saraf di otak yang bertanggung jawab untuk perasaan negatif menjadi layu, sementara jaringan saraf yang bertanggung jawab untuk perasaan cinta dan bahagia menjadi kuat.”


Jika Anda mengira tidak merasa bahagia karena bukan biksu Buddha yang sudah bermeditasi selama 30 tahun, jangan kecewa dulu. Penelitian Dr. Davidson menunjukkan bahwa orang yang mempraktikkan meditasi selama 3 bulan saja, 20-30 menit sehari, mengalami perubahan fisiologis yang sangat berarti, menampilkan perasaan lebih bahagia dan lebih sehat. Untunglah, kita tidak usah bermiditasi puluhan tahun untuk bisa meraih manfaatnya.



Terimakasih
Salam Sehat Jiwa 






0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.