Senin, 27 Maret 2017

Ada yang menyarankan agar menumpahkan amarah (katarsis: luapan, curahan, pengosongan) ke objek lain untuk mengatasi amarah. ‘meluapkan amarah dengan meninju sansak atau memukul sofa—sepanjang tidak ada pihak yang terluka—di pandang dapat mengendurkan tekanan akibat gelora amarah sekaligus lambat laun memunahkan penyebabnya.


Namun penelitian Brad Brusman bersama mitra-mitranya pada tahun 1999 menyimpulan metode katarsis justru mengamplifikasi keberingasan seorang (Holloway, 2003). Jadi, diperlukan solusi lain yang lebih efektif, tetapi juga proporsional (adil).


Amarah telah diteliti dari sekian dimensi: filosofis, neurofisiologis, biologis, dan psikologis. Filsuf etika telah memulai diskusi ini sejak masa Yunani awal, terutama Aristoteles. Pakar neurofisiologi menelaah struktur dan fungsi saraf yang terlibat dalam memicu amarah. Pakar biologi memandangnya dari kacamata evolusi Darwin. Sementara pakar psikologi menelaah proses-proses mental dan ekspresi prilaku yang terlibat. Studi tentang amarah masih sangat dini sehingga pertentangan kesimpulan diantara pakar yang menggelutinya menjadi pemandangan biasa. Saya memilih hipotesis yang menyatakan bahwa emosi (termasuk amarah) ditentukan oleh penilaian mental (kognitif) atas stimulus atau situasi. Penilaian mental itu bersifat konkret, segera, tanpa sengaja, dan bukan merupakan buah perenungan (refleksi). Ini pertama kali diajukan Magda B. Arnold. Beliau menetapkan proses kognitif itu berlaku untuk semua emosi (Izard, 2004).


Penilaian (kognisi) adalah proses menimbang-nimbang mengenakan suatu kriteria. Kriteria adalah himpunan nilai-nilai yang dipandang mewakili kebajikan. Nilai-nilai ini ada yang sifatnya instingtif, yakni bawaan dari lahir; juga ada yang sifatnya perolehan, yakni dari aktivitas belajar atau pengalaman. 


Nilai-nilai instingtif inilah yang disebut sebagai pengetahuan asasi, sementara nilai-nilai perolehan adalah pengetahuan norma yang berasal dari keluarga, sosial-budaya (etika), atau firman ilahi. Pengetahuan asasi ditanaman dalam ruh dan bersifat intuitif, pengetahuan norma terutama ditanamkan lewat indra dan nalar.


Penilaian kognitif ‘tanpa sengaja dan bukan merupakan buah perenungan (refleksi)’ yang dimaksudkan Arnold hanya dapat diterapkan pada kriteria instingtif (intuitif), sebab kriteria ini sudah built-in (fitrah), tertanan pada ruh, dan dapat diakses organ otak melalui hati-yang-gaib (qalb). Qalb, sebagai balasan, memberikan respons balik ragawi melalui otak.
Sementara kriteria perolehan (normatif), proses penilaainnya dapat secara sengaja dan melalui perenungan. Kriteria normatif baru bersifat ‘tanpa sengaja’ dan bukan merupakan buah perenungan ‘manakala sudah terpadu dan menjadi ‘perangai’ dari hati-yang gaib (qalb).


‘Proses penilaian’ yang berlangsung dalam qalb terjadi dalam sekelebat, secepat kilat. ‘Penilaian kognitif’ dalam qalb ini diolah berdasarkan kriteria instingtif, yakni karakteristik asasi insani yang tertanam dalam ruh berupa; ada bahagia, identitas-khas, dan benar.
Pemahaman teori Arnold dalam bingkai konsep ruh dan qalb inilah yang memungkinkan kita membagi pemicu amarah ke dalam dua kategori utama: picu intuitif dan picu normatif.


Salam Sehat Jiwa




0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.