Senin, 27 Maret 2017

Seperti ini; Amarah sering kali dipacu gangguan, apakah lelah (fatique), lapar, kesakitan, frustasi seksual, atau masa pemulihan dari sakit; juga perubahan hormonal, seperti PMS (pre-menstrual syndrome (uring-uringan prahaid)),  bersalin atau menopause – (Wikipedia, “Anger”). Pemicu lainnya adalah tekanan mental (stres), yakni seseorang menafsirkan dan menanggapi suatu kejadian dipandang berbahaya atau mengancam ketenangan/ketentraman dirinya (Encarta, “Stres” [Psykology]).


Ada pula yang disebabkan oleh cedera fisik, seperti gegar otak, atau penyakit fisik seperti serangan darah tinggi (stroke); juga penyakit mental, seperti bipolar-disorder (depresi dan histeris, yakni semacam “demam panas-dingin”, tetapi menjangkiti mental). Seluruh potensi pemicu amarah di atas dapat dirangkum dalam satu kata: masalah. Masalah—per definisi—adalah kesenjangan antara realitas dan pengharapan (expectancy). Lelah adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi fit/segar. Sakit adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi sehat. Stres adalah kesenjangan dari pengharapan akan kondisi tenang-tenteram. Dan ketahuilah, semua ini saya menyebutnya adalah ‘masalah’. Manusia diciptakan untuk menghadapi kesulitan (“masalah”) demi kesulitan (“masalah”) Namun, akibat karakteristik tergesa-gesanya, ingin serba instan (“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.. ), atau lebih tegas lagi: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir [nirsabar], manusia cenderung tidak menyukai dan menghindari masalah.


Fitrah ini menyebabkan manusia rentan akan serangan amarah. Padahal, Allah sudah menjanjikan tidak akan memberikan “soal” ujian melebihi “spesifikasi rancang-bangun” seorang insan itu sendiri. “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh [kebajikan], Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, merka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal didalamnya, atau yang lebih inspiratif lagi,”.. Yang Maha Kuasa tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Tuhan berikan kepadanya. Yang Maha Kuasa kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” . Bahkan Tuhan mengajarkan, bila menghadapi tekanan masalah, mohonkanlah keringanan ujian.
Meminjam kategori stimulus dalam definisi sres diatas, semua gangguan fisik-mental sesungguhnya dapat dimasukan ke dalam salah satu kategori berikut: apakah stimulus bahaya, seperti gegar otak, serangan darah tinggi; atau stimulus nirtenteram, seperti lelah, lapar, dan sebagainya.


Stimulus bahaya dapat diperluas menjadi stimulus yang membahayakan kesintasan (survivalitas) individu. Sementara stimulus nirtentram dapat diperluas menjadi stimulus yang menjauhkan (mendeviasikan) individu dari kebahagian. Jadi, pangkal stimulus amarah adalah kesintesan dan kebahagiaan.
 

Dengan demikian dapatlah dihipotesiskan bahwa semua masalah hanyalah ilusi dari stimulus amarah sesungguhnya (yang antara lain adalah: kesintesan dan kebahagiaan).

Salam Sehat Jiwa

0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.