Selasa, 16 Agustus 2016

Ini ilmiah Pak, Bu.. Gan, Sist.. Broo. Sejatinya hubungan kita memberikan dampak biokimia pada tubuh kita. Pada saat kita menjalin hubungan sehat dengan orang lain, otak membanjiri sel tubuh dengan zat kimia bahagia, dan jika kita menjalin hubungan sosial  yang tidak sehat, zat kimia yang berbahayalah yang dilepaskan.


Menurut penelitian terakhir, jaringan biokimia kaum wanita membuat mereka cenderung lebih sering menjalin hubungan sosial daripada kaum pria. Meskipun wanita dan pria sama-sama melepaskan adneralin dan kortisol ketika sedang mengalami stres, para ilmuwan dalam penelitian yang mengesankan di UCLA mendapati bahwa untuk menyangga zat kimia pemicu stres itu, otak wanita melepaskan oksitosin, hormon ikatan.... Inilah sebabnya mengapa wanita yang menghadapi kesulitan sering kali ingin berkumpul dengan sesama wanita atau melakukan percakapan yang lama dan menyenangkan dengan sahabat yang juga wanita. Atau mengapa mereka merasa tertarik untuk mengurus anak-anak atau hewan peliharaan mereka. Para peneliti menamakan perilaku ini “merawat dan berteman”. Perilaku ini dirangsang oleh oksitosin yang selanjutnya menghasilkan semakin banyak oksitosin. Semakin intensif wanita “merawat dan berteman,” semakin banyak oksitosin yang dilepaskan, yang menghasilkan pengaruh yang menentramkan dan selanjutnya meredakan stres.


Tidak diragukan lagi bahwa sahabat dapat membantu kaum wanita hidup lebih bahagia dan menjalani kehidupan yang lebih sehat. Penelitian Kesehatan Perawat yang termasyur dari Harvard Medical School membuktikan bahwa semakin banyak sahabat yang dimiliki wanita, semakin kecil kemungkinannya dia mendapatkan gangguan kesehatan fisik di saat dia beranjak tua, dan semakin besar peluangnya untuk menjalani kehidupan yang menggembirakan. Bahkan, hasil penelitian ini begitu signifikan sehingga para penelitinya menyimpulkan bahwa tidak memiliki sahabat atau teman curhat dapat mengganggu kesehatan wanita, sama seperti efek merokok atau kelebihan berat badan.


Penulis buku Men Are from Mars, Women Are from Venus, Jhon Gray—Telah menelaah penelitian yang luas tentang hubungan antara stres, hormon, dan gender. Dia bercerita bahwa meskipun kaum wanita melepaskan oksitosin ketika menghadapi stres, kaum pria tidak memiliki reaksi biokimia yang sama. Menurut sejumlah penelitian, ketika pria mengalami stres dan melepaskan kortisol, hal ini menurunkan kadar dopamin dan testosteron, meyebabkan frustasi dan depresi. Dr. Gray berkata bahwa kaum pria dilengkapi secara biologis untuk mencari cara merangsang produksi zat kimia saraf ini dengan menyelesaikan masalah, bertindak, dan mengatasi risiko bahaya, bukan berbicara atau merawat orang lain. Jumlah oksitosin yang hanya sedikit dalam sistem kaum pria membuat mereka tidak terlalu tertarik untuk bersosialisasi dengan teman.

0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.