Minggu, 28 Agustus 2016

Ceritanya seperti berikut, Tiga tahun yang lalu aku duduk di sebuah ruangan auditorium, terpukau, di saat direktur dan salah seorang penggagas Proyek Pemberian Maaf Universitas Stanford, Dr. Fred Luskin, berbicara tentang penelitiaan di bidang pemberiaan maaf. Dr. Luskin, yang berpergian ke seluruh penjuru dunia untuk melakukan penelitian, belum lama ini mempertemukan para ibu di Irlandia Utara dari kedua belah pihak yang berseteru, yang kehilangan putra mereka. Dengan mengucurkan cinta dan kasih sayang, Dr. Luskin bercerita tentang keajaiban pemberian maaf.


Berbagai kisahnya, yang begitu mengharukan sampai ada pendengarnya yang meneteskan air mata, menunjukkan bahwa orang yang bersedia memaafkan orang lain akan merasa bahagia, memiliki hubungan yang lebih kokoh dan penuh cinta, dan melaporkan lebih sedikit mengalami gangguan kesehatan dan stres. Masyrakat kedokteran mulai mengakui peran besar yang dimainkan amarah dan rasa kesal dalam menciptakan penyakit dan ketagihan. Dr. Luskin mengemukakan bahwa kegagalan untuk memaafkan—memendam kebencian dalam hati—sebenarnya merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung. 


Yang menarik, dia mendapati bahwa orang yang baru saja menjalani proses batin dengan memaafkan orang yang menzaliminya lalngsung membaik sistem kardiovaskulernya, sistem ototnya, dan sistem sarafnya. Jadi, untuk memetik manfaat bagi diri kita, kita bahkan tidak usah mengatakan kepada orang yang menzalimi kita bahwa kita memaafkannya. 

Dalam bukunya Forgive for Good, Dr. Luskin bercerita tentang Dana, yang merasa bahwa kezaliman yang dialaminya tidak termaafkan. Dr. Luskin meminta Dana membayagkan seorang mengacungkan senjata ke kepalanya. Satu-satunya peluang selamat adalah jika dia ikhlas menghapus amarah atau rasa kesal yang dirasakannya terhadap orang yang menzaliminya. Nah, apakah dia bersedia memaafkan orang itu? Setelah dipojokkan seperti ini, Dana langsung mengatakan bahwa kepedihan hatinya tidak cukup berharga sampai harus dibayar dengan jiwanya—dan akhirnya dia menyadari bahwa sebenarnya dia sedang membunuh dirinya perlahan-lahan dengan menolak memberikan maaf.


Meskipun tidak ada yang mengacungkan senjata ke kepala kita agar kita ikhlas menghapus kepedihan dan amarah, hidup kita—dan kebahagiaan kita—memang bergantung pada diri kita yang mau belajar ikhlas menghapus kepedihan kita dan mampu memaafkan. 
“Orang yang mendatangkan cahaya matahari ke dalam kehidupan orang lain tidak akan bisa menghalangi cahaya itu dalam kehidupannya sendiri” –JM Barrie, Novelis Skonlandia Abad ke-19—


Salam Sehat Jiwa

0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.