Senin, 15 Agustus 2016

Dibiaskan diatas keresahan oleh rancupsikoanalisa, dedicated khususon to: Kaskus.co.id dan Google.co.id.; Bahwasannya; Promenade des Anglais merupakan ikon paling utama kota Nice, Perancis selatan. "Trotoar" lebar yang panjangnya sekitar 7 kilometer itu bersisian dengan Laut Mediterania.


Permukaan laut berwarna biru safir membuat pantai ini disebut pantai biru.
Setiap hari, khususnya dari sore sampai malam, Promenade selalu ramai oleh lalu lalang pejalan kaki, pelari, pemain papanskate, ataupun orangtua yang mendorong kereta bayi.
Hampir setiap perayaan besar di Nice dipusatkan di sini, seperti Hari Bastille.
Biasanya, sejak pagi hari Promenade sudah dipenuhi warga untuk menyaksikan parade militer berupa tentara yang berbaris dan kendaraan militer.

Malam harinya dilanjutkan dengan pertunjukan hiburan di sejumlah panggung besar.
Namun, puncak acara yang paling ditunggu ribuan orang adalah pesta kolosal kembang api yang menjadi simbol kebebasan.
Ketika percikan warna-warni meledak di udara, warga akan berteriak dengan penuh kegembiraan, Liberte! Egalite! Fraternite!
Namun, suasana penuh kegembiraan itu mendadak berubah menjadi jeritan horor dan kepanikan ketika sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak dan melindas kerumunan. Sedikitnya 84 orang tewas.
 

Ruang publik
Korban tewas yang begitu banyak-dalam radius 2 km-mengundang pertanyaan, seperti apa seharusnya antisipasi pengamanan di ruang publik, yang tentunya tak semudah menjaga gedung.Ribuan keluarga yang melepaskan kegembiraan itu menjadi target yang sangat rentan untuk aksi teroris.Kemampuan keamanan Perancis untuk menjaga kerumunan dalam jumlah besar sebetulnya sudah dibuktikan pada penyelenggaraan Piala Eropa 2016 yang berakhir pekan laluSejak serangan Paris, 13 November 2015, yang menewaskan 130 orang, Perancis menerapkan keadaan darurat sampai 26 Juli, dan kini diperpanjang lagi selama tiga bulan.
Untuk menjaga Piala Eropa yang berlangsung selama satu bulan, di 10 kota di Perancis, dengan jumlah penonton sekitar 2,5 juta orang, diturunkan lebih dari 90.000 personel keamanan ditambah 13.000 petugas swasta.
Namun, Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve waktu itu mengatakan, dirinya tidak bisa menjamin "tidak akan ada konfrontasi dengan teroris".

"Kami harus mengatakan kepada rakyat Perancis, nol kewaspadaan berarti 100 persen risiko, tetapi 100 persen kewaspadaan belum tentu nol risiko," kata Cazeneuve.
Meski demikian, hampir semua pemerintahan asing mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang akan berkunjung ke Perancis untuk berhati-hati dan menghindari kerumunan.
Terlebih Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris, yang "positif" bahwa Piala Eropa menjadi target teroris.

Dengan kata lain, setiap orang yang datang ke Piala Eropa sudah memiliki "sensor kewaspadaan lebih" untuk mengantisipasi situasi darurat.
Mungkin, ini yang membedakan dengan kerumunan di Hari Bastille.
Apa yang warga khawatirkan bisa jadi hanya terkait cuaca buruk atau pemogokan yang bisa mengganggu acara hiburan, dan bukan serangan teror. Kita masih menanti penyelidikan, apakah memang terjadi "relaksasi" di sektor pengamanan pasca Piala Eropa, karena sebetulnya situasi negara darurat baru akan berakhir pekan depan.


Pertanyaan lain, bagaimana Pemerintah Perancis mengantisipasi pengaturan keamanan pada perayaan nasional yang pasti akan menyedot kerumunan warga dan berlangsung di seluruh negeri, tak hanya di Paris.
 

Meskipun berat, warga Perancis dan warga dunia kini harus menerima kenyataan bahwa ancaman teror sudah harus menjadi "bagian hidup".

Selalu waspada dan hati-hati di mana pun berada. Betul, dunia kini sudah tidak ramah lagi. (MYRNA RATNA)

(Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juli 2016, di halaman 1 dengan judul "Kemerdekaan yang Terenggut")

0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.