Minggu, 28 Agustus 2016

Ibu, Bapak.. Agan, Sista... Broo Ehmmh.. Inih iho, Salah satu temuan yang paling menggairahkan yang ditemukan oleh para ilmuwan saraf pada satu dasawarsa terakhir ini adalah bahwa otak kita benar-benar terjalin untuk berhubungan dengan orang lain. Setiap orang yang berinteraksi dengan kita, atau yang hanya mengangguk saat kita berpapasan di jalan, merangsang “jembatan saraf” yang menghubungkan kita dengan orang itu. Otak kita mengandung “sel saraf cermin” yang selaras dan tidak selaras dengan orang-orang di sekeliling kita.


Pernahkah Anda mendapati diri Anda secara tidak sengaja meniru mimik wajah, postur, bahasa tubuh, atau irama percakapan orang yang sedang bercakap-cakap dengan Anda? Atau menguap karena orang lain menguap—meskipun Anda sebenarnya tidak mengantuk? Di kala kita memperhatikan orang lain melakukan sesuatu, sel saraf “melakukan hal yang sama” dengan perbuatan itu di dalam otak kita, seakan-akan kita melakukannya sendiri!
Sel saraf cermin juga telah dikaitkan dengan kemampuan kita untuk berempati dengan perasaan orang lain, dan inilah sebabnya mengapa, ketika orang yang sedang marah atau kesal melangkah masuk kedalam sebuah ruangan  itu dapat merasakannya. Atau ini jugalah alasannya mengapa dengan hanya melihat orang lain sedang berduka, air mata kita ikut tergenang. Beberapa peneliti sekarang yakin bahwa autisme, yang meyebabkan gangguan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, mungkin merusak sel saraf cermin.
Perasaan kita dapat menular. Menurut psikolog yang dikenal secara internasional Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligene (Kecerdasan Emosi) dan Social Intelligence (Kecerdasan Sosial), perasaan meyebar dari satu orang kepada orang lain, sama seperti flu. Dan, meskipun akan bagus kita dapat tertulari perasaan yang membangkitkan semangat, tetapi akan sangat merugikan jika kita tertulari amarah, cemburu, kecemasan, atau kebencian yang dirasakan orang lain.


Menurut Wikipedia; Emotional intelligence (EI) or emotional quotient (EQ) is the capacity of individuals to recognize their own, and other people's emotions, to discriminate between different feelings and label them appropriately, to use emotional information to guide thinking and behavior, and to manage and/or adjust emotions to adapt enviroments or achieve one's goal(s). Although the term first appeared in a 1964 paper by Michael Beldoch, it gained popularity in the 1995 book by that title, written by the author, psychologist, and science journalist Daniel Goleman. Since this time Goleman's 1995 theory has been criticized within the scientific community.
 

There are currently several models of EI. Goleman's original model may now be considered a mixed model that combines what have subsequently been modeled separately as ability EI and trait EI. Goleman defined EI as the array of skills and characteristics that drive leadership performance. The trait model was developed by Konstantin Vasily Petrides in 2001. It "encompasses behavioral dispositions and self perceived abilities and is measured through self report". The ability model, developed by Peter Salovey and John Mayer in 2004, focuses on the individual's ability to process emotional information and use it to navigate the social environment.

Studies have shown that people with high EI have greater mental health, job performance, and leadership skills although no causal relationships have been shown and such findings are likely to be attributable to general intelligence and specific personality traits rather than emotional intelligence as a construct. For example, Goleman indicated that EI accounted for 67% of the abilities deemed necessary for superior performance in leaders, and mattered twice as much as technical expertise or IQ. Other research finds that the effect of EI on leadership and managerial performance is non-significant when ability and personality are controlled for, and that general intelligence correlates very closely with leadership.[7] Markers of EI and methods of developing it have become more widely coveted in the past decade. In addition, studies have begun to provide evidence to help characterize the neural mechanisms of emotional intelligence.


Criticisms have centered on whether EI is a real intelligence and whether it has incremental validity over IQ and the Big Five personality traits.Review finds that, in most studies, poor research methodology has exaggerated the significance of EI.


Salam Sehat Jiwa

0 komentar:

RANCUPSIKOANALISA

Popular Posts

KLIK UNTUK MELIHAT DIAZEPAM

Free Retweets

TRACE & TRACKING

JUAL OBAT KALEM YOUTUBE

KLIK: Tanda-Tanda Schizophrenia ???

Free Traffic ist ein soziales Netzwerk.(Gratis) Kostenlos anmelden.